Kamis, 23 Juni 2016

Hidari 6 Kesalahan Memberi Makanan Untuk Bayi

HINDARI 6 KESALAHAN MEMBERI MAKANAN UNTUK BAYI

Tak terasa si kecil sudah memasuki usia 6 bulan, ibu dan ayah harus mulai mempertimbangkan untuk memberikan makanan untuk bayi sebagai makanan pendamping ASI. Apa saja yang harus diperhatikan dalam memberikan makanan untuk bayi?

Kesalahan-kesalahan dalam memberi makanan untuk bayi:

1. Terlalu cepat memberikan makanan pendamping ASI
Masih banyak terjadi bayi dibawah usia 3 (tiga) bulan sudah diberikan makanan pendamping ASI, seperti pisang dan pepaya. Biasanya orangtua beranggapan karena bayi tidak cukup kenyang hanya dengan meminum ASI, juga dikarenakan dahulu ketika masih kecil, ayah atau bunda juga diberikan makanan pendamping ASI seperti pisang sejak usia 1 bulan dan sekarang terbukti baik-baik saja. Padahal memberikan makanan pendamping terlalu cepat dapat menyebabkan dampak negatif pada bayi, antara lain:

a. gangguan sistem serap makanan karena saluran pencernaan dan ginjal belum sempurna
b. bayi dapat tersedak, karena belum bisa mengunyah dan menelan dengan baik, Makanan tersebut dapat menutupi saluran pernafasan, hingga bayi menjadi kesulitan bernafas, yang dapat megakibatkan kematian
c. Invaginasi yaitu masuknya usus bagian atas ke dalam usus bagian bawah, yang menyebabkan perut bayi menjadi sakit terus menerus dan menjadi sulit makan, hal ini dibutuhkan pertolongan segera karena dapat menyebabkan kematian pada bayi.
d. Memberikan kontak kepada alergi menjadi lebih cepat juga, sehingga respon alergi pada bayi menjadi lebih sering.

2. Susu terus menerus
Sebaliknya ketika sudah saatnya untuk diberikan makanan pendamping ASI, tapi ayah atau bunda terus memberikannya dengan susu dengan alasan bayi tidak mau makan. Hal ini menyebabkan kecukupan gizi untuk bayi tidak dapat dipenuhi. Bayi juga harus mulai untuk belajar mengunyah dan menelan ketika memasuki usia 6 bulan.

3. Memberikan vitamin
Karena ingin bayi lahap makan, orangtua langsung memberikan vitamin pada si kecil. Orangtua harus mengerti pemberian vitamin memang tidak dilarang tapi hanya diberikan dalam kondisi tertentu, seperti baru sembuh dari sakit atau sedang dirawat di rumah sakit. Kebanyakan vitamin justru akan membuat bayi menjadi diare.

4. Memberikan telur mentah
Banyak keyakinan bahwa telur mentah akan memberikan daya tahan pada bayi. Padahal justru sebaliknya, karena bisa saja telur sudah terkontaminasi dengan virus.

5. Ketidakseimbangan Gizi
Karena si kecil sangat menyukai bubur, maka orangtua memberikan menu yang itu-itu terus tanpa variasi. Padahal keseimbangan antara karbohidrat, lemak, protein buah dan sayuran harus seimbang. Dan biarkan si kecul merasakan variasi makan sehingga dapat mengenal berbagai rasa dan tekstur makanan.

6. Tidak bersih
Hati-hati! Daya tahan tubuh bayi lebih rentan. Mereka memerlukan alat makan yang bersih sehingga saluran pencernaan bayi tidak terganggu. Bila kebersihan alat makanan untuk bayi tidak terjaga, besar kemungkinan bayi akan mudah terkena diare.

Memang diperlukan kesabaran dan ketelatenan dalam memperkenalkan dan memberikan makanan untuk bayi, apalagi kebiasaan bayi ‘melepeh‘ di awal perkenalannya dengan makanan padat. Hal ini sangat wajar, karena selama menyusus bayi mempunyai reflek ekstrusi, yaitu memasukkan dan menjulurkan lidahnya. Maka saat makanan diberikan bayi akan reflek menjulurkan lidahnya saat makanan berada di ujung lidahnya yang mengakibatkan makanan menjadi keluar. Padahal bayi berniat untuk menelannya dengan menjulurkan lidahnya menurut kebiasaannya menyusu. Dan keahliannya menelan akan semakin mahir dari waktu ke waktu.

sumber: http://id.theasianparent.com/

Makanan Sehat Tapi Tidak Baik Untuk Bayi

MAKANAN SEHAT TAPI TIDAK BAIK UNTUK DIKONSUMSI SI KECIL

Ada beberapa jenis makanan Si Kecil yang kerap dicap sebagai hidangan lezat bernutrisi, seperti susu dan sereal. Namun, tak selamanya jenis makanan ini sehat dan baik untuk buah hati Anda, terutama makanan dalam kemasan yang sudah ditambahkan gula dan garam. Berikut jenis makanan sehat yang perlu Anda waspadai dilansir dari foxnews.com.

1. SUSU
Anak-anak membutuhkan susu untuk menjaga kesehatan tulangnya. Namun tidak benar jika mereka membutuhkan lemak ekstra yang ada di dalam susu. Tak ada salahnya untuk memberikan susu rendah lemak yang juga tinggi akan kalsium, vitamin, dan mineral.

2. SEREAL
Menemukan sereal sehat sekarang ini sangatlah sulit. Karena banyak sereal yang sebenarnya hanya mengandung sedikit kandungan biji-bijian (seperti gandum) yang menyehatkan. Selain itu, sereal kemasan juga kerap mengandung gula tambahan. Sebelum membelinya, perhatikan daftar label nutrisi pada kemasan.

3. YOGHURT
Tahukah Anda bahwa yoghurt yang dijual di pasaran, sebagian besar mengandung banyak gula dan pewarna buatan. Sebaiknya berikan yoghurt yang rendah lemak atau bebas lemak, dengan rasa alami atau plain.

4. JUS BUAH
Jus buah mengandung banyak vitamin dan mineral. Sayangnya, tambahan gula di dalamnya justru dapat menjadi pemicu obesitas pada anak. Karena itulah, sebaiknya Anda memberikan buah segar yang mengandung lebih banyak serat, vitamin, dan mineral.

sumber: www.motherandbaby.co.id

Hidari 6 Kesalahan Memberi Makanan Untuk Bayi

HINDARI 6 KESALAHAN MEMBERI MAKANAN UNTUK BAYI

Tak terasa si kecil sudah memasuki usia 6 bulan, ibu dan ayah harus mulai mempertimbangkan untuk memberikan makanan untuk bayi sebagai makanan pendamping ASI. Apa saja yang harus diperhatikan dalam memberikan makanan untuk bayi?

Kesalahan-kesalahan dalam memberi makanan untuk bayi:

1. Terlalu cepat memberikan makanan pendamping ASI
Masih banyak terjadi bayi dibawah usia 3 (tiga) bulan sudah diberikan makanan pendamping ASI, seperti pisang dan pepaya. Biasanya orangtua beranggapan karena bayi tidak cukup kenyang hanya dengan meminum ASI, juga dikarenakan dahulu ketika masih kecil, ayah atau bunda juga diberikan makanan pendamping ASI seperti pisang sejak usia 1 bulan dan sekarang terbukti baik-baik saja. Padahal memberikan makanan pendamping terlalu cepat dapat menyebabkan dampak negatif pada bayi, antara lain:

a. gangguan sistem serap makanan karena saluran pencernaan dan ginjal belum sempurna
b. bayi dapat tersedak, karena belum bisa mengunyah dan menelan dengan baik, Makanan tersebut dapat menutupi saluran pernafasan, hingga bayi menjadi kesulitan bernafas, yang dapat megakibatkan kematian
c. Invaginasi yaitu masuknya usus bagian atas ke dalam usus bagian bawah, yang menyebabkan perut bayi menjadi sakit terus menerus dan menjadi sulit makan, hal ini dibutuhkan pertolongan segera karena dapat menyebabkan kematian pada bayi.
d. Memberikan kontak kepada alergi menjadi lebih cepat juga, sehingga respon alergi pada bayi menjadi lebih sering.

2. Susu terus menerus
Sebaliknya ketika sudah saatnya untuk diberikan makanan pendamping ASI, tapi ayah atau bunda terus memberikannya dengan susu dengan alasan bayi tidak mau makan. Hal ini menyebabkan kecukupan gizi untuk bayi tidak dapat dipenuhi. Bayi juga harus mulai untuk belajar mengunyah dan menelan ketika memasuki usia 6 bulan.

3. Memberikan vitamin
Karena ingin bayi lahap makan, orangtua langsung memberikan vitamin pada si kecil. Orangtua harus mengerti pemberian vitamin memang tidak dilarang tapi hanya diberikan dalam kondisi tertentu, seperti baru sembuh dari sakit atau sedang dirawat di rumah sakit. Kebanyakan vitamin justru akan membuat bayi menjadi diare.

4. Memberikan telur mentah
Banyak keyakinan bahwa telur mentah akan memberikan daya tahan pada bayi. Padahal justru sebaliknya, karena bisa saja telur sudah terkontaminasi dengan virus.

5. Ketidakseimbangan Gizi
Karena si kecil sangat menyukai bubur, maka orangtua memberikan menu yang itu-itu terus tanpa variasi. Padahal keseimbangan antara karbohidrat, lemak, protein buah dan sayuran harus seimbang. Dan biarkan si kecul merasakan variasi makan sehingga dapat mengenal berbagai rasa dan tekstur makanan.

6. Tidak bersih
Hati-hati! Daya tahan tubuh bayi lebih rentan. Mereka memerlukan alat makan yang bersih sehingga saluran pencernaan bayi tidak terganggu. Bila kebersihan alat makanan untuk bayi tidak terjaga, besar kemungkinan bayi akan mudah terkena diare.

Memang diperlukan kesabaran dan ketelatenan dalam memperkenalkan dan memberikan makanan untuk bayi, apalagi kebiasaan bayi ‘melepeh‘ di awal perkenalannya dengan makanan padat. Hal ini sangat wajar, karena selama menyusus bayi mempunyai reflek ekstrusi, yaitu memasukkan dan menjulurkan lidahnya. Maka saat makanan diberikan bayi akan reflek menjulurkan lidahnya saat makanan berada di ujung lidahnya yang mengakibatkan makanan menjadi keluar. Padahal bayi berniat untuk menelannya dengan menjulurkan lidahnya menurut kebiasaannya menyusu. Dan keahliannya menelan akan semakin mahir dari waktu ke waktu.

sumber: http://id.theasianparent.com/

8 Trik Ciptakan Happy Baby

CIPTAKAN HAPPY BABY

Anda boleh bangga, tiga minggu setelah melahirkan, Anda mulai mahir membedakan ‘irama’ tangis pertanda si kecil lapar, dan pertanda popoknya basah. Hari demi hari pun, kemampuan Anda sebagai orangtua baru terus meningkat. Anda pun semakin percaya diri. Namun tetap saja ada rasa cemas menyelinap di benak. Cukupkah makannya? Apakah tangisnya itu normal? Bahagiakah ia? Inilah beberapa hal yang bisa mencirikan bayi sehat ,dan bahagia lewat perilaku, temperamen, dan penampilannya.

1. SERING GANTI POPOK
Sebagai ibu baru, Anda mungkin merasa ASI tidak mencukupi kebutuhannya, apalagi ia sering menangis. Anda menduga ia kelaparan. Anda pun khawatir si kecil tidak tumbuh dan berkembang dengan baik. Ternyata, jika Anda sering mengganti popoknya, paling tidak 8 - 10 kali sehari, Anda tak perlu khawatir. Itu adalah pertanda yang baik jika kebutuhan makannya terpenuhi.

2. SENANG TERSENYUM & MENATAP
Senyum dan tertawa, menurut, Dr Caspar Addyman dari Birkbeck College London, Inggris yang melakukan riset tentang senyum dan tawa bayi, kedua hal tersebut merupakan alat komunikasi yang penting bagi bayi sebelum kemampuan bahasa mereka berkembang. Saatnya bagi Anda untuk sering mengajaknya bermain agar senyumnya berkembang beriringan dengan kemampuan bahasanya, karena ia sering mendengar Anda mengajaknya bicara.

3. TANGIS MEREDA OLEH SUARA
Menangis adalah alat komunikasi utama bayi di awal kehidupannya. Lewat itu ia mengungkapkan rasa ngantuk, lapar atau ingin ganti popoknya yang basah. Tangisnya akan reda jika Anda memenuhi kebutuhannya. “Saat ia menangis dan orangtua merespon tangisnya, bayi akan belajar bahwa Anda bisa membuatnya tenang,” kata Linda Gilkerson, Ph.D. Direktur The Irving B. Harris Infant Studies Program, Erikson University, Illionis, AS. Respon si kecil yang tenang itu juga sebagai tanda mulai terbangunnya hubungan yang baik antara si kecil dengan Anda.

4. SERING TAMPAK DIAM
Di minggu awal kelahirannya, aktivitas utama si kecil adalah minum susu dan tidur. Hampir setiap 2 jam sekali ia minum susu. Ia pun tidur 16 jam. Namun di usia 1 bulan, bayi mulai berkurang jam tidur. Saat bangun ia mulai ‘mengamati’ dan ia mulai fokus saat melihat sesuatu. Coba saja Anda menunjukkan mainan berwarna cerah di dekatnya. Anda akan melihat, benda itu mencuri perhatiannya. Jika ia sedang rewel, benda itu pun bisa membuatnya tenang. Di usia ini, si kecil sedang berusaha untuk mengamati sekelilingnya dan memproses semua informasi itu di benaknya.

5. TERTARIK DENGAN SUARA
Sebetulnya, sih, bayi sudah bisa mendengar sejak lahir, namun membutuhkan waktu beberapa minggu untuk mendengar suara secara jelas. Suara AC yang berdesis, suara musik dari televisi atau yang terdengar saat melewati toko musik, cukup akan membuatnya mencari-cari datangnya suara. Suara itu juga membuatnya ‘terhibur’. Coba saja Anda membuat suara konyol, membunyikan bibir, membuat suara mobil atau motor menderu misalnya, bisa membuatnya tertawa. Semua reaksi yang ia berikan itu menandakan telinganya sehat dan pendengarannya baik.

6. TERPANA MELIHAT WARNA & BENTUK
Anda akan melihat pandangannya terpana dan tertuju kepada benda yang berputar-butar seperti kipas angin. Itu pertanda perkembangan padangannya telah mengalami kemajuan. Bayi baru mampu melihat secara jelas dalam rentang 8 – 12 inci, sama dengan jarak dari wajahnya saat menyusu ke wajah Anda. Beberapa riset menemukan, bayi lebih menyukai gambar wajah dibanding gambar yang lain. Di usia 2 bulan rata-rata bayi mulai senang melihat pola, warna cerah dan benda-benda yang berputar.

7. SEMAKIN KUAT
Di usia satu bulan, saat tidur tengkurap, Anda akan mulai melihat ia mencoba mengangkat kepala. Ia akan berusaha menggerak-gerakkan lehernya saat berada di gendongan Anda. Di usia 3 bulan, bayi semakin ahli dan senang menahan kepala, kemudian menggerakkan lehernya. Itu pertanda si kecil sedang melatih otot-ototnya. Mulailah memberinya waktu untuk tummy time, yang akan membantu mengembangkan perkembangan otot
termasuk kemampuannya berguling dan duduk. “Bayi yang tak memiliki cukup tummy time, cenderung telat berguling duduk dan merangkak dibanding normal,” kata Dr. Jennifer Shu, penulis buku Heading Home With Your New Born, bersama Dr. Laura Jana.

8. TENANG & TIDUR TERATUR
Anda mulai tidak lagi sering mendengar tangisnya. Ia kini ia mulai sering tampak tenang. Secara perlahan ia mulai pandai beradaptasi dengan lingkungan barunya di luar rahim. Tidurnya pun semakin nyenyak. Bahkan, beberapa bayi mulai memiliki jam tidur rutin di usia 4 bulan yang akan membuat Anda bisa merencanakan dan mengatur kegiatan. Anda bisa merencanakan me time untuk mengajak teman menonton film terbaru, dan mengunjungi restoran yang selama hamil tidak bisa Anda datangi. Namun, jika bayi usia 4 bulan masih makan dan tidur dalam jam yang tidak teratur, cobalah untuk mengatur ulang jadwal aktivitasnya sehari-hari.

sumber: www.ayahbunda.co.id

Rabu, 22 Juni 2016

Tepat Memilih Video Games Untuk Anak

TEPAT MEMILIH VIDEO GAMES UNTUK ANAK

Video game mampu menyihir anak hingga terlena dan lupa waktu. Namun sebenarnya, video games memiliki sisi baik dan buruk yang perlu menjadi catatan orangtua.

SISI POSITIF VIDEO GAMES

1. CERDAS BERBAHASA
Konsentrasi anak saat bermain game terjadi saat gelombang alfa pada otak berjalan aktif sehingga membuat informasi lebih mudah terserap. Akibatnya, perbendaharaan kata-kata yang ia tangkap dalam video games akan lebih mudah diingat oleh anak.

2. CERDAS SPASIAL
Kecerdasan spasial adalah kemampuan untuk penalaran abstrak. Pada anak usia 3-4 tahun yang aktif menggunakan komputer disertai aktivitas pendukung lainnya akan memperoleh peningatan signifikan dalam berpikir abstrak serta mampu menyelesaikan masalah dengan strategi.

3. CERDAS LOGIKA DAN MATEMATIKA
Ada tiga hal yang anak pelajari saat bermain games, yaitu memecahkan masalah dan kemampuan untuk meresponnya, memahami pola permasalahan dan wawasan pengetahuannya berkembang. Saat bermain games anak akan diminta untuk mengikuti instruksi dan jalan cerita games serta menggunakan logika untuk menyelesaikan permainan. Video games juga mengajarkan anak konsep matematika, seperti puluhan, ratusan, ribuan. Dia juga belajar konsep operasional seperti penambahan, pengurangan, besar-kecil, serta kali lipat.

4. CERDAS MUSIK
Musik dan video games tidak pernah terpisahkan. Setiap games biasanya diiringi musik tertentu dengan ketukan yang memberi semangat. Untuk anak-anak yang memang punya bakat musik akan memperhatikan hal tersebut. Selain itu, saat bermain games biasanya ada bunyi-bunyian seperti “cring-cring” suara koin berjatuhan saat dapat poin, suara fanfare saat memenangkan satu level atau “tetot” saat ada yang salah. Bunyi-bunyian seperti ini mengajarkan anak tentang ekspresi!

5. CERDAS INTRAPERSONAL
Saat bermain video games jarang ada yang bisa langsung menyelesaikan semua level permainan dalam percobaan pertama. Biasanya semakin sulit level permainan, perlu beberapa kali mencoba sebelum akhirnya bisa naik ke level selanjutnya. Hal tersebut menumbuhkan perasaan kompetitif untuk terus bisa naik ke level permainan selanjutnya. Selain itu, anak jadi termotivasi untuk menyelesaikan tantangan games tersebut.

SISI NEGATIF VIDEO GAMES

1. MENURUNKAN CERDAS INTERPERSONAL
Video games bisa menghipnotis anak untuk mengacuhkan dunia sekitar jika sedang asyik bermain, padahal anak perlu bersosialisasi dengan orang lain.

2. MENURUNKAN CERDAS NATURALIS
Saat bermain games, mata anak terpaku pada layar monitor saja sehingga hanya berkutat di dalam rumah saja dan melewatkan pemandangan di luar rumah. Meski games yang dia mainkan menampilkan pemandangan alam, anak tidak merasakannya langsung. Dia tidak tahu seperti apa wangi bunga atau tekstur kulit pohon yang kasar.

3. MENURUNKAN CERDAS KINESTETIS
Terlalu banyak bermain video games anak bisa jadi pemalas karena terus duduk di depan layar monitor. Sebuah penelitian menemukan hubungan antara lamanya permainan video games bisa meningkatkan risiko anak obesitas.

PEMILIHAN VIDEO GAMES YANG TEPAT

Video game tidak semua buruk. Jika dimainkan secara proporsional, video games bukan barang berbahaya. Permainan ini malah memiliki sejumlah manfaat positif untuk mendukung proses tumbuh kembang anak. Yang berbahaya, banyak orangtua belum menyadari bahwa jika anak main games tanpa dikontrol, mereka terancam kecanduan.

Cukup banyak games bagus, yang bisa mengajarkan anak cara menyelesaikan masalah, memiliki strategi dalam bertindak, merencanakan tindakan dan melatih koordinasi mata-tangan. Setelah tahu bagaimana melindungi anak dari ancaman kecanduan games, sekarang, yuk, pilih games yang tepat!

1. Pilih yang sesuai dengan kemampuan anak, tahapan perkembangan, dan memiliki tingkatan permainan sehingga anak menguasai permainan secara bertahap, dari mudah hingga sulit.

2. Cari yang memberi anak kesempatan untuk membuat keputusan dan mengekspresikan kesukaannya. Misalnya, anak bisa menentukan bentuk, warna sampai pakaian yang dikenakan oleh karakter tokoh. Hal ini juga mengembangkan kemandirian dan kontrol diri.

3. Bisa dimainkan beberapa pemain sekaligus. Saat bermain bersama, ciptakan interaksi, misalnya dengan menanyakan apa yang ia pelajari dari permainan dan bagaimana perasaannya ketika menang atau kalah.

4. Tidak menampilkan kekerasan, baik tindakan atau perkataan, tidak menampilkan stereotipe terhadap golongan tertentu, misalnya penjahat selalu orang kulit hitam, dan lain-lain. Coba dulu suatu permainan sebelum memberinya pada anak.

sumber: www.ayahbunda.co.id

8 Kecerdasan Anak dan Cara Mengembangkannya

8 KECERDASAN ANAK DAN CARA MENGEMBANGKANNYA

Tidak ada anak yang bodoh. Setiap anak memiliki kepintarannya masing-masing. Seorang pakar pendidikan dari Universitas Harvard, Amerika Serikat, Thomas Armstrong mengungkapkan, ada delapan jenis kecerdasan anak menurut teori Multiple Intelligences atau kecerdasan multipel.

Teori ini pertama kali diperkenalkan oleh pakar pendidikan yang juga dari Universitas Havard, Howard Gardner. Howard membaginya menjadi delapan jenis kecerdasan anak, yaitu word smart (kecerdasan linguistik), number smart (kecerdasan logika atau matematis), self smart (kecerdasan intrapersonal), people smart (kecerdasan interpersonal), musik smart (kecerdasan musikal), picture smart(kecerdasan spasial), body smart (kecerdasan kinetik), dan nature smart(kecerdasan naturalis).

Thomas menjelaskan, setiap anak barangkali bisa memiliki delapan jenis kecerdasan ini. Hanya saja, ada anak yang hanya menonjol pada satu atau lebih jenis kecerdasan tersebut. Untuk itu, menurut Thomas, orangtua seharusnya mengenali jenis kecerdasan anak, kemudian membantu mengasah kecerdasannya.

“Dukunglah anak sesuai jenis kecerdasannya. Adanya minat, bisa membangun kompetensi anak kemudian hari,” kata Thomas dalam talkshow bertajuk Beda Anak Beda Pintar oleh S-26 Procal Gold Wyeth Nutrition di Jakarta, Kamis (1/10/2015).

Thomas menegaskan, orangtua tidak bisa memaksa bakat yang dimiliki anak. Anak seharusnya didukung sesuai minatnya. Seperti apa 8 tipe kecerdasan anak ini? Berikut penjelasannya dan cara mengembangkannya.

1. Word smart (kecerdasan linguistik)

Jenis kecerdasan ini berkaitan dengan kemampuan anak dalam berbahasa baik dalam bentuk tulisan maupun saat berbicara. Kecerdasan linguistik dapat dilihat ketika anak suka membaca, cepat bisa mengeja kata dengan baik, suka menulis, suka berbicara, dan mendengarkan cerita.

Jika anak menunjukkan kesukaannya seperti ini, orangtua bisa memberikan buku-buku cerita, mainan huruf alphabet, kertas untuk menulis, atau mainan yang berkaitan dengan huruf dan kata-kata lainnya yang bisa menstimulasi kecerdasannya ini.

Orangtua juga bisa mendukung anak dengan sering mengajaknya bercerita, membaca bersama, membacakan dongeng, dan melakukan dialog berdua dengan anak.

2. Number smart (kecerdasan logika atau matematis)

Jenis kecerdasan ini bisa ditandai ketika anak tertarik dengan angka-angka, menyukai matematika, dan hal-hal yang berbau sains, maupun yang berhubungan dengan logika.

Untuk mengasah kemampuannya ini, berikan anak-anak alat berhitung yang menarik, benda-benda untuk dihitung, balok bertulisan angka-angka, puzzle, hingga timbangan untuk mengukur berat.

Orangtua bisa mengajak anak mengunjungi museum ilmu pengetahuan, mengajak anak bermain sambil menghitung, atau bermain monopoli.

3. Self smart (kecerdasan intrapersonal)

Anak dengan tipe kecerdasan ini cenderung lebih suka bermain sendiri. Namun, ia bisa mengatur emosi dengan baik. Anak ini biasanya memiliki ambisi dan sudah tahu ingin jadi apa saat besar nanti. Ia juga memiliki rasa percaya diri yang tinggi dan bisa mengomunikasikan perasaannya dengan baik.
Jika si kecil menunjukkan tanda kecerdasan ini, berikan ia dukungan dengan menyediakan tempat yang nyaman untuk bermain sendiri, boneka, atau mainan untuk main peragaan. Orangtua bisa mengajak si kecil berbicara mengenai perasaannya dan menanyakan pendapat mereka tentang berbagai hal. Bisa juga dengan mengajak mereka melakukan aktivitas yang bersifat reflektif seperti yoga.

4. People smart (kecerdasan interpersonal)

Berbanding terbalik dengan self smart, anak yang memiliki tipe kecerdasan ini lebih suka bermain dengan banyak orang. Anak juga memiliki empati, mampu memahami perasaan orang lain, dan cenderng menonjol sehingga suka memimpin saat bermain.

Anak seperti ini sangat cocok diberikan kostum-kostum untuk bermain drama atau teater boneka. Orangtua bisa mengajak mereka bermain bersama di luar rumah atau sering mengajak si kecil datang ke acara keluarga untuk bersosialisasi.

5. Music smart (kecerdasan musikal)

Kecerdasan musikal barangkali salah satu tipe kecerdasan yang paling mudah dilihat oleh orangtua. Ciri-ciri anak yang memiliki kecerdasan ini, antara lain suka bernyanyi, menggoyangkan badan atau berjoget ketika mendengar suara musik, suka mendengarkan musik, mengingat lagu, suka memukul-mukul seperti bermain drum, dan main piano.

Untuk mendukung minat anak di bidang musik, berikanlah ia alat musik seperti drum kecil, keyboard, piano, pianika, dan berbagai alat musik lainnya. Ajaklah si kecil bermain musik bersama, bernyanyi, mendengarkan musik, bahkan mengajaknya menonton konser musik anak-anak.

6. Pictue smart (kecerdasan spasial)

Anak yang memiliki kecerdasan ini biasanya terlihat dari kesukaannya menggambar, mencorat-coret kertas, mewarnai, suka berimajinasi, hingga suka bermain-main membangun sesuatu menggunaan balok.

Untuk anak ini, berikanlah buku gambar, perlengkapan untuk mewarnai seperti kuas dan cat air, dan kamera. Seringlah melakukan kegiatan menggambar bersama hingga mengunjungi museum seni.

7. Body Smart (kecerdasan kinetik)

Anak yang memiliki kecerdasan body smart sangat aktif, seperti suka berolahraga, menari, menyentuh berbagai benda dan mempelajarinya, atau membuat sesuatu dengan tangannya.

Untuk mendukung kecerdasannya, berikan anak mainan balok-balok kayu, kantong pasir agar ia bisa membuat suatu bangunan atau rumah-rumahan. Bisa juga memberikan anak tali untuk bermain lompat tali.

Anak seperti ini sangat senang diajak berolahtaga bersama keluarga, membuat prakarya, atau memonton pertunjukkan balet atau teater.

8. Nature smart (kecerdasan naturalis)

Anak-anak yang memiliki kecerdasan naturalis sangat suka bermain di alam. Anak ini juga menyukai binatang, memiliki kepedulian terhadap lingkungan, suka dengan tanaman.

Untuk mendukungnya, berikan anak binatang peliharaan, akuarium, sediakan kebun dan tanaman, hingga alat teropong untuk melihat burung-burung.

Anak seperti ini sangat suka diajak berjalan-jalan di alam bebas, pergi ke kebun binatang, dan melakukan kegiatan berkebun bersama sambil mengenal jenis tanaman dan hewan atau serangga yang ditemui.

Mendisiplinkan Anak dengan Tekhnik JAM DINDING dan BROKEN RECORD

MENDISIPLINKAN ANAK DENGAN 'TEKNIK JAM DINDING' & 'TEKNIK BROKEN RECORD'

(Diambil dari linimasa twitter @AnnaSurtiNina pada tanggal 7 Agustus 2012)

1. Beberapa hari yang lalu saya kultwit tentang ‪#‎teknikdisiplin‬, isinya adalah 'teknik kalender'. Terus saya gaptek untuk chirp itu hahaha. Lanjutin dulu aja ah..

2.Sekarang tentang 'teknik jam dinding'. Teknik ini cukup enak buat anak usia sekitar 1.5 tahun ke atas, yang udah maunya mandiri lah.

3. 'Teknik jam dinding' biasanya cocok buat meminta anak melakukan sesuatu dalam hitungan sekian menit / jam ke depan.

4. Contoh: minta anak beresin mainan, tentukan waktu main di luar rumah, kapan mulai belajar, akan segera pergi, waktu nunggu, dll.

5. Seperti 'teknik kalender', tentunya perlu dikenalkan dulu cara kerja jam. Akan lebih baik pake jam dengan jarum dibanding digital.

6. Jelasin dulu angka-angkanya, ajarin baca angka, boleh berdasarkan letak angka di jam (12 = atas) atau berdasarkan bentuk angkanya.

7. Jelasin juga gimana cara kerja jarum jam: jarum panjang berjalan lkebih cepet dibanding jarum pendek.

8. Biasanya untuk anak akan lebih mudah kalau pake jarum panjang, karena lebih cepet, hitungan menit aja. Ngajarin sabar itu bertahap kan.

9. Contoh: kapan mulai beresin mainan. Ketika mulai main, maka kasi tau anak sekarang jarum panjang lagi tunjuk angka berapa. Buat....

10. ...kesepakatan sampai jarum panjang di angka berapa anak bebas main, di angka berapa mulai beresin mainan. Beri tahu anak...

11. ...bahwa saat ini dia BEBAS bermain sampai jarum panjang di angka tersebut. Setiap 5 / 10 menit, ingatkan bahwa dia BEBAS main.

12. Kalau hampir waktunya, ingatkan anak bahwa 'jarum panjang hampir ke angka...' supaya dia siap mental untuk selesai. Ingatkan beberapa kali.

13. Ketika sudah beberapa menit sebelum waktu tersebut, duduklah di sebelahnya sambil ikut main, juga ingatkan sebentar lagi waktu beresin mainan.

14. Ketika waktunya tiba, lagi-lagi JREEEENNNG 'yuk kita beresin mainan, kan jarum panjang udah tunjuk angka...' Langsung dekatkan...

15. ...kotak mainan supaya mainan bisa segera dimasukkan ke sana. Temani ya, boleh juga dibantu dikit-dikit, tapi jangan banyak-banyak.

16. Anak protes? Ingatkan bahwa sudah waktu yang dijanjikan. Biasanya kalau ini dibiasakan dari sekitar usia 1.5 tahun, anak jadi lebih gampang diatur.

17. Kalau baru dibiasakan dari sekitar 4 tahunan, memang akan lebih sulit, tapi tetep bisa, asalkan orangtua lebih tegas, lebih sabar, lebih konsisten.

18. Penerapannya ke cara-cara lain yang di awal disebutin, udah bisa kan? Bikin suasana yang asyik, dijamin anaknya mau nurut.

19. Satu teknik lagi deh 'teknik kaset rusak'. Eh udah gak ada kaset ya? CD deh hihihi... *nawar*. Aslinya: 'broken record'

20. Ini cukup enak dilakukan untuk anak 4 tahun ke atas saat kita lagi gak ada energi untuk berdebat sementara anak terus usaha membangkang.

21. Broken record ini caranya adalah mengulang-ulang kalimat yang sama / mirip, apa pun yang dikatakan oleh anak.

22. Broken record cukup enak dilakukan ketika anak diminta tidur, beresin mainan, selesaikan makan, dll.

23. Caranya: tentukan kalimat positif apa yang mau diucapkan, ucapkan berulang dengan intonasi rendah tanpa marah, tak usah berdebat.

24. Contoh: Mama - Ayo tidur Nak. Anak - aku msh mau main. M - Ayo tidur. A - tp aku blm ngantuk. M - ayo tidur. dst.

25. Apa pun yang dikatakan anak, kita ulangi aja kata-kata kita. Ingat, intonasi terus rendah, jangan naik karena marah. Ketika udah dikatakan...

26. ...berulang kali biasanya anak sebel, jadi tau bahwa apa pun yang dia katakan, orangtuanya akan tetep konsisten, jadi dia akan nurut.

27. Perlu diwaspadai bahwa untuk teknik broken record, sebetulnya anak nurut agak terpaksa (tapi nurut!). Jadi gak usah terlalu sering...

28. ...kombinasikan dengan teknik-teknik lain, & kudu dinetralisir kekesalannya dengan komunikasi lembut penuh cinta setelahnya.

29. Teknik lain misalnya ‪#‎tokensystem‬, dulu pernah saya share *tapi belum di-
chirp hihihi* Masih ada lagi yang 'ignoring' dll. Banyak!

30. Yang baik sebetulnya pake senyum, bukan pake marah. Justru kalau pake marah, biasanya menggagalkan proses disiplin yang dibentuk.

31. Marah & hukuman adalah yang paling akhir dilakukan, ketika teknik-teknik lain tidak berhasil. Padahal teknik-teknik lain dilakukan dengan perlahan kan.

32. Jadi emang intinya sih SABAR *nyengir lebar banget*. Gak ada yang bisa instan kalau mendidik anak, semua ada prosesnya.

33. Jika kita tau berbagai teknik, maka bisa kayak saya (tapi jangan jadiin saya idola ya hihihi), sampe anak 4 tahun, gak pernah marah tapi anak nurut.

34. Setelah anak sekitar 4 tahun, emang anaknya udah badung, perkembangannya emang gitu, jadi marah bisa jadi 1 strategi tepat, tapi tidak sebelumnya.

35. Itu dulu ya sharingnya tentang #teknikdisiplin. Moga-moga berguna.